Oleh: LEGIMAN
(Peminat masalah sosial, kuliah S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Sekelebatan saja gempita mudik berlalu. Tak terkecuali pemudik asal Jateng yang merantau dibanyak daerah di luar Jateng seperti Jakarta. Dinas Perhubungan Jateng memperkirakan pemudik dari Jakarta yang pulang ke Jateng mencapai 4,7 juta jiwa. Angka ini naik sebesar 15 persen jika dibandingkan arus mudik tahun lalu.
Berhentinya keriuhan mudik dan arus balik itu, aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya kembali normal seperti sedia kala. Mudik, yang kerap dilihat sebagai pestanya kaum urban, selain meninggalkan suasana suka dan cita, tak luput menyisakan segudang trauma. Trauma yang setiap tahunnya hadir menyapa, sebuah trauma yang disudahi rentetan kecelakaan dengan jumlah fantastis dan mengerikan!
Diluar trauma itu dan “penyudahan” tanpa ada perbaikan berarti dari berbagai pihak, kususnya pemerintah, tak sedikit pula berkah yang direngkuh. Salah satunya adalah berkah kesetiaan sosial, ta’aruf budaya (perkenalan budaya), dan solidaritas antarsesama. Yang tak kalah penting lagi adalah kesadaran nasionalisme atau wawasan kebangsaan. Mungkin, tradisi mudiklah satu-satunya wahana yang tersisa sebagai penyulut kesadaran identitas nasionalisme dan wawasan kebangsaan ditengah dentuman globalisasi yang kian kapitalistik-individualis.
Pelaku mudik sedikit banyak diingatkan kembali akan keyakinan dan heterogenitas budaya, kelebihan sumber daya alam, serta keragaman ras, etnis, bahasa dan agama. Selain itu, melalui gerak mobil itu pula, dan dilakukan secara serentak, kolektifitas bangsa ini turut disadarkan bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta, dan tak cuma Jawa, tapi juga Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan lain sebagainya.
Sharing budaya
Gerak mudik merupakan mobilisasi horizontal-teritorial lintas daerah, Kabupaten/Kota, Provinsi bahkan antarpulau. Sepeda motor, kereta api (KA), bus, kapal laut, dan pesawat menjadi media mobil bagi para pemudik. Gerak mudik horizontal-teritorial baik lewat darat, laut maupun udara meniscayaan adanya sebuah pengalaman berharga yang mampu menembus batas-batas primordial budaya, sosial, ekonomi bahkan politik. Sentra-sentra ekonomi, lokus-lokus kekuasan politik, dan mega-glamor Ibu Kota yang dizaman kini seakan menjadi “berhala” baru manusia modern, sejenak disterilkan. Hiruk-pikuk kerakusan ekonomi, syahwat politik, egoisme dalam persaingan sosial, rehat untuk waktu sebentar.
Pelaku mudik melakukan hijrah mental-sosial dan intuisi meninggalkan sementara gedung-gedung pencakar langit dan sesaknya bangunan-bangunan industri atau pabrik. Dalam perjalanan mudik ribuan hektar sawah dan ladang mengiringi, gunung-gunung mengelilingi, hutan pun turut dihampiri. Bagi pengguna kapal laut antarpulau, luasnya laut biru menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Sementara dari atas pesawat lekuk-lekuk struktur Indonesia dari Sabang sampai Marauke dan ribuan pulau yang membentang cukup membuat bangga siapa saja yang melihat jauh kebawah.
Selain itu, terjadi juga perjumpaan antarpenumpang yang terdiri dari ragam ras, etnis, latar budaya, bahasa dan agama. Penumpang terdiri dari banyak ras, etnis, dan bahasa. Ada Jawa, Madura, Dayak, Melayu, dan lain-lain.
Dari perjumpaan itulah, sharing budaya terjadi. Antarpenumpang bisa saling memahami karakter, identitas, dan kekhasan masing-masing, antarsatu sama lain. Tak lain, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, suasana seperti diatas juga terjadi pada hiruk-pikuk transportasi sepeda motor, pesawat, KA, dan bus.
Bukan tidak mungkin, dari fenomena mudiklah revitalisasi kesadaran akan nasionalisme mendapat tempat. Narasi nasionalisme yang terinspirasi oleh kekhasan budaya lokal nan unik yang tidak ada duanya di belahan dunia.
Fenomena mudik tak bisa dilepaskan dari ritual sosial-keagamaan yang dipunyai umat Islam, yakni lebaran ‘Idul Fitri. Puluhan tahun sudah tradisi ini dilakoni di Indonesia. Tidak ada lebaran tanpa mudik, begitu kira-kira slogannya. Memang, tanpa mudik, lebaran tetap menggema. Tapi penulis yakin, mudik menjelang lebaran adalah obsesi setiap orang yang notabene muslim. Kaya-papa (miskin), tua-muda, remaja-dewasa, dan sebagainya, pasti memimpikannya. Mungkin kekakangan aktivitas sosial-ekonomilah (seperti pekerjaan) yang menghalangi seseorang untuk tidak mudik. Atau, bisa jadi karena belum memiliki modal sosial yang cukup untuk “dipamerkan” buat kampung halaman.
Tak pelak, mudik dengan dihiasi kegirangan spiritual dan sosial menjadi berkah sosio-kultural sekaligus menjadi titik tolak melepas semua kepenatan sosial, kebuntuan berfikir, kesibukan bekerja dan aktivitas sosio-ekonomis lainnya. Progresifitas dan dinamika kehidupan sosial yang tak terbendung dipaksa untuk rehat sejenak sembari mengasah emosi dan mentalitas agar terbangun kesetiaan sosial-kolektif yang berawal dari kesetiaan terhadap keluarga, handai tolan dan kerabat.
Pendidikan mudik
Oleh karena itu, tradisi mudik menjelang lebaran perlu terus dijaga, disemai dan dipupuk eksistensinya. Kenyamanan dan kemanan harus diciptakan semaksimal mungkin dan pemerintah harus gigih memperhatikannya.
Tradisi mudik seyogyanya tidak dilihat sebagai masalah, tapi aset sosio-kultural yang berpotensi menumbuhkan kesadaran nasionalisme, wawasan kebangsaan, kesetiaan sosial dan solidaritas bangsa.
Apapun ekspresi media tranportasi yang berkembang ditengah masyarakat, sikap resistensi dari pemerintah sejauh mungkin dihindari. Terhadap pengguna sepeda motor misalnya. Pemerintah tidak harus menelurkan kebijakan tegas pelarangan. Yang perlu digiatkan oleh pemerintah adalah melakukan pendidikan transportasi kepada masyarakat.
Sosialisasi pendidikan transportasi mendesak digalakkan baik dari sisi mental maupun kondisi sepeda motor. Jika mental pengemudi “sehat”, kondisi sepeda motor (lampu, rem, rantai, ban, dan lain-lain) baik, dan budaya tertib mengakar kuat dalam masyarakat, kecelakaan dapat dihindari.
(Peminat masalah sosial, kuliah S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Sekelebatan saja gempita mudik berlalu. Tak terkecuali pemudik asal Jateng yang merantau dibanyak daerah di luar Jateng seperti Jakarta. Dinas Perhubungan Jateng memperkirakan pemudik dari Jakarta yang pulang ke Jateng mencapai 4,7 juta jiwa. Angka ini naik sebesar 15 persen jika dibandingkan arus mudik tahun lalu.
Berhentinya keriuhan mudik dan arus balik itu, aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya kembali normal seperti sedia kala. Mudik, yang kerap dilihat sebagai pestanya kaum urban, selain meninggalkan suasana suka dan cita, tak luput menyisakan segudang trauma. Trauma yang setiap tahunnya hadir menyapa, sebuah trauma yang disudahi rentetan kecelakaan dengan jumlah fantastis dan mengerikan!
Diluar trauma itu dan “penyudahan” tanpa ada perbaikan berarti dari berbagai pihak, kususnya pemerintah, tak sedikit pula berkah yang direngkuh. Salah satunya adalah berkah kesetiaan sosial, ta’aruf budaya (perkenalan budaya), dan solidaritas antarsesama. Yang tak kalah penting lagi adalah kesadaran nasionalisme atau wawasan kebangsaan. Mungkin, tradisi mudiklah satu-satunya wahana yang tersisa sebagai penyulut kesadaran identitas nasionalisme dan wawasan kebangsaan ditengah dentuman globalisasi yang kian kapitalistik-individualis.
Pelaku mudik sedikit banyak diingatkan kembali akan keyakinan dan heterogenitas budaya, kelebihan sumber daya alam, serta keragaman ras, etnis, bahasa dan agama. Selain itu, melalui gerak mobil itu pula, dan dilakukan secara serentak, kolektifitas bangsa ini turut disadarkan bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta, dan tak cuma Jawa, tapi juga Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan lain sebagainya.
Sharing budaya
Gerak mudik merupakan mobilisasi horizontal-teritorial lintas daerah, Kabupaten/Kota, Provinsi bahkan antarpulau. Sepeda motor, kereta api (KA), bus, kapal laut, dan pesawat menjadi media mobil bagi para pemudik. Gerak mudik horizontal-teritorial baik lewat darat, laut maupun udara meniscayaan adanya sebuah pengalaman berharga yang mampu menembus batas-batas primordial budaya, sosial, ekonomi bahkan politik. Sentra-sentra ekonomi, lokus-lokus kekuasan politik, dan mega-glamor Ibu Kota yang dizaman kini seakan menjadi “berhala” baru manusia modern, sejenak disterilkan. Hiruk-pikuk kerakusan ekonomi, syahwat politik, egoisme dalam persaingan sosial, rehat untuk waktu sebentar.
Pelaku mudik melakukan hijrah mental-sosial dan intuisi meninggalkan sementara gedung-gedung pencakar langit dan sesaknya bangunan-bangunan industri atau pabrik. Dalam perjalanan mudik ribuan hektar sawah dan ladang mengiringi, gunung-gunung mengelilingi, hutan pun turut dihampiri. Bagi pengguna kapal laut antarpulau, luasnya laut biru menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Sementara dari atas pesawat lekuk-lekuk struktur Indonesia dari Sabang sampai Marauke dan ribuan pulau yang membentang cukup membuat bangga siapa saja yang melihat jauh kebawah.
Selain itu, terjadi juga perjumpaan antarpenumpang yang terdiri dari ragam ras, etnis, latar budaya, bahasa dan agama. Penumpang terdiri dari banyak ras, etnis, dan bahasa. Ada Jawa, Madura, Dayak, Melayu, dan lain-lain.
Dari perjumpaan itulah, sharing budaya terjadi. Antarpenumpang bisa saling memahami karakter, identitas, dan kekhasan masing-masing, antarsatu sama lain. Tak lain, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, suasana seperti diatas juga terjadi pada hiruk-pikuk transportasi sepeda motor, pesawat, KA, dan bus.
Bukan tidak mungkin, dari fenomena mudiklah revitalisasi kesadaran akan nasionalisme mendapat tempat. Narasi nasionalisme yang terinspirasi oleh kekhasan budaya lokal nan unik yang tidak ada duanya di belahan dunia.
Fenomena mudik tak bisa dilepaskan dari ritual sosial-keagamaan yang dipunyai umat Islam, yakni lebaran ‘Idul Fitri. Puluhan tahun sudah tradisi ini dilakoni di Indonesia. Tidak ada lebaran tanpa mudik, begitu kira-kira slogannya. Memang, tanpa mudik, lebaran tetap menggema. Tapi penulis yakin, mudik menjelang lebaran adalah obsesi setiap orang yang notabene muslim. Kaya-papa (miskin), tua-muda, remaja-dewasa, dan sebagainya, pasti memimpikannya. Mungkin kekakangan aktivitas sosial-ekonomilah (seperti pekerjaan) yang menghalangi seseorang untuk tidak mudik. Atau, bisa jadi karena belum memiliki modal sosial yang cukup untuk “dipamerkan” buat kampung halaman.
Tak pelak, mudik dengan dihiasi kegirangan spiritual dan sosial menjadi berkah sosio-kultural sekaligus menjadi titik tolak melepas semua kepenatan sosial, kebuntuan berfikir, kesibukan bekerja dan aktivitas sosio-ekonomis lainnya. Progresifitas dan dinamika kehidupan sosial yang tak terbendung dipaksa untuk rehat sejenak sembari mengasah emosi dan mentalitas agar terbangun kesetiaan sosial-kolektif yang berawal dari kesetiaan terhadap keluarga, handai tolan dan kerabat.
Pendidikan mudik
Oleh karena itu, tradisi mudik menjelang lebaran perlu terus dijaga, disemai dan dipupuk eksistensinya. Kenyamanan dan kemanan harus diciptakan semaksimal mungkin dan pemerintah harus gigih memperhatikannya.
Tradisi mudik seyogyanya tidak dilihat sebagai masalah, tapi aset sosio-kultural yang berpotensi menumbuhkan kesadaran nasionalisme, wawasan kebangsaan, kesetiaan sosial dan solidaritas bangsa.
Apapun ekspresi media tranportasi yang berkembang ditengah masyarakat, sikap resistensi dari pemerintah sejauh mungkin dihindari. Terhadap pengguna sepeda motor misalnya. Pemerintah tidak harus menelurkan kebijakan tegas pelarangan. Yang perlu digiatkan oleh pemerintah adalah melakukan pendidikan transportasi kepada masyarakat.
Sosialisasi pendidikan transportasi mendesak digalakkan baik dari sisi mental maupun kondisi sepeda motor. Jika mental pengemudi “sehat”, kondisi sepeda motor (lampu, rem, rantai, ban, dan lain-lain) baik, dan budaya tertib mengakar kuat dalam masyarakat, kecelakaan dapat dihindari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar