Minggu, 16 Agustus 2009

Remaja dalam bayang-bayang terorisme

Oleh: LEGIMAN
(Pendidik, kuliah S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Masa depan remaja kini dalam bayang-bayang ancaman terorisme. Pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta pada 17 Juli lalu dilakukan oleh Dani Dwi Permana, 18 tahun, menjadi bukti. Bukan tidak mungkin, dibelakang sana barisan remaja seusia Dani siap menyusul.
Bayang-bayang ancaman terirosme terhadap remaja kian menambah daftar panjang problem remaja di Tanah Air. Remaja dihadapkan setumpuk problem yang berpotensi menjerumuskan remaja dalam kubangan masa depan suram. Kenakalan remaja, HIV AIDS, narkoba, seks bebas, disorientasi moral akibat dentuman budaya global, dan lain-lain adalah sederet problem mencemaskan yang terus mengintai remaja.
Problem remaja tentu menjadi problem semua elemen bangsa. Artinya, dosa-dosa remaja adalah dosa semua. Tanpa sadar remaja terpenjara dalam ketidakpedulian, korban sikap acuh tak acuh, dan  pengabaian sosial baik oleh pemerintah, elit-elit politik, lingkungan sosial masyarakat dimana remaja tinggal maupun orang tua yang seharusnya menjadi peƱata masa depan remaja.
Perasaan tersudutkan, terisolasi, teralienasi, dan tersisih dari sistem kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya bahkan dari suasana kehidupan keluarga, memaksa remaja melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya bagi masa depan remaja dan kemanusiaan pada umumnya. Loyalitas terhadap perdamaian, cinta kasih, keharmonisan, kesejatian diri, bangsa, nasionalisme berubah menjadi loyalitas akan permusuhan, kebencian, dan sinisme.        
Ditengah kegalauan remaja, sosok-sosok motivator redup. Semangat optimisme yang seharusnya mengalir dalam hidup keseharian menghilang entah kemana. Perhatian dan sokongan optimisme sepi dan lari dari dinamika kehidupan remaja. Kalau pun remaja berusaha mencari sandaran, jawaban yang ditemukan bukan yang semestinya didapatkan.
Sebagai manusia sosial, lingkungan sosial sebagai wahana ekspresi menumbuhkan jiwa-jiwa sosial berikut pernak-pernik patologis dan anomali yang melekat didalamnya, salah dimasuki. Media massa pun seperti televisi (TV) ikut menumpulkan otentisitas jati diri yang dimiliki remaja.
TV asyik dengan tayangan-tayangan kekerasan, mengaburkan akal sehat, tontonan-tontonan berbau mistik marak, dan hilangnya bata-batas moral dan amoral. Berita-berita seputar kabar kriminalitas membanjir, pertengkaran elit politik akrab didengar dan dilihat, korusi makin menggurita, dan lain-lain terus membayangi kesadaran remaja.
Selain suasana tidak sehat yang ditampilkan media massa, adegan-adegan kekerasan juga hadir ditengah-tengah kehidupan remaja. Tawuran antar kampung, antar supporter sepak bola, hingga kekerasan atasnama kebenaran pemahaman agama tertentu terhadap pemahaman kelompok lain.     
Pola pendidikan keluarga yang salah juga ikut andil dalam merontokkan semangat remaja untuk bangkit. Selera gaya, kemauan, minat, bakat dan potensi remaja yang tidak dipahami sepenuhnya oleh orang tua menjadikan remaja sebagai korban obsesi dan arogansi orang tua.
Pola pendidikan yang diterapkan tidak mengedepankan semangat demokratis. Remaja ditempatkan sebagai sosok yang selalu salah, kebenaran hanya ada ditangan orang tua. Sehingga persoalan-persoalan keluarga hingga masa depan anak cenderung didominasi keinginan orang tua. 
Perlakuan kekerasan tanpa batas pun acap mendera baik kekerasan fisik maupun psikis. Pada akhirnya anak didik mencari sesuatu diluar kehidupan keluarga agar mendapatkan rasa aman, nyaman dan ketenangan.
Pada ranah inilah pengaruh lingkungan yang tidak kondusif dan lepasnya kontrol orang tua berpotensi menjerumuskan remaja dalam arena ketidakjelasan. Remaja dihadapkan pada gemerlap modernisasi yang menggandeng budaya diluar identitas dan karakter bangsa. Ideologi-ideologi hedonisme, konsumerisme, materialisme, dan semisalnya melekat kuat dalam budaya ini. Alih-alih menjawab kegalauan remaja, kegersangan moral, spiritual, dan etika mencandera remaja.
Kerinduan pada semangat religiusitas membayangi. Saat-saat demikianlah pintu masuk bagi ajaran-ajaran terorisme terbuka lebar. Iming-iming kebahagiaan tidak hanya didunia tapi juga diakhirat ditawarkan secara massif. Agama dijadikan kedok meluluhkan sisi kemanusiaan sejati remaja. Agama penuh kekerasan, permusuhan dan kebencian diyakini remaja tanpa ada tawar-menawar.  Peran semua
Peran dan fungsi pendidikan keluarga, lingkungan sosial masyarakat, dan sekolah yang lebih beradap mendesak untuk direvitalisasi. Antara orang tua, guru, dan tokoh-totoh masyarakat sudah saatnya bersinergi, membangun satu konsepsi bersama dan terjalin komunikasi yang mantap demi masa depan remaja.
Diluar peran-peran itu, menyelamatkan remaja dari bayang-bayang terorisme juga menjadi momentum bagi pemerintah dan elit-elit politik. Selama ini elit-elit politik kerap memanfaatkan potensi remaja untuk kepentingan politik sesaat.  
Pemerintah dan elit-elit politik harus memperkuat agenda dan visi pendidikan baik formal maupun informal [non formal] yang lebih berkualitas. Pelatihan-pelatihan, membuka akses informasi seluas-luasnya, peluang-peluang usaha, menciptakan suasana persaingan yang sehat, dan lain-lain.
Sudah saatnya remaja diberi peluang dan dibukakan pintu selebar-lebarnya untuk berkreasi dan berekspresi tanpa ada sedikitpun hambatan. Sebab dengan cara ini remaja akan merasa dilibatkan menjadi bagian dari elemen bangsa yang turut berpartisipasi dalam proses-proses pembangunan bangsa masa depan.
Menelantarkan remaja ditengah padang luas kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa ada politik keberpihakan dari pemerintah sama saja memelihara terorisme. Padahal konstitusi negara menjamin hak-hak remaja untuk mendapat pengayoman, apresiasi, peningkatan harkat dan martabat.
Remaja yang potensial menjadi terorisme adalah para remaja yang tersisih, terlantar, kalah dan korban deru mesin kehidupan. Atau, para remaja yang menjadi korban pengabaian dan ketidakpedulian lingkungan sekitar. Nasionalisme remaja runtuh akibat salah urus negara terhadap remaja karena kurang diberikan wadah ekspresi. Ditambah lagi  minimnya apresiasi dan ruang-ruang penggalian potensi, minat dan bakat remaja.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com